Pasar Burung Ngasem Jogja

Berdasarkan tradisi yang berlaku di masa lampau, seorang pria Jawa akan disebut ksatria yang paripurna jika dia telah memiliki 5 hal utama dalam hidupnya, yakni wisma (rumah), wanita (istri), turangga (kuda), curiga (keris atau senjata), dan kukila (burung peliharaan). Atas dasar itulah mengapa burung peliharaan menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat Jawa. Memelihara burung tidak hanya menjadi klangenan (hobi) semata, melainkan sebuah prestise tersendiri yang menunjukkan kelas sosial dalam masyarakat.

Tradisi memelihara burung bersuara merdu dan burung yang memiliki daya jual tinggi tentu saja mendorong keberadaan pasar burung. Di Yogyakarta sendiri ada satu pasar burung yang sangat legendaris dan sudah terkenal hingga mancanegara, pasar burung tersebut biasa dikenal dengan nama Pasar Ngasem. Sejauh ini ada dua versi sejarah mengenai awal mula Pasar Ngasem. Versi pertama menyebutkan bahwa Pasar Ngasem mulai berkembang menjelang tahun 1960. Tepatnya sejak pedagang burung dari Pasar Beringharjo dipindahkan ke Ngasem. Sedangkan versi kedua menyebutkan bahwa Pasar Burung Ngasem sudah ada sejak dua abad yang lalu. Hal ini diperkuat dengan adanya foto tahun 1809 berjudul “Djogdja Tempo Doeloe” yang memperlihatkan kegiatan perdagangan burung di Ngasem.

Terlepas dari kebenaran sejarah yang telah disebutkan di atas, Pasar Burung Ngasem memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Yogyakarta. Pasar ini menjadi salah satu landmark Kota Yogyakarta dan keberadaanya telah melegenda. Selama berpuluh-puluh tahun pedagang melakukan aktivitas jual-beli di kawasan jeron beteng tersebut. Namun seiring upaya penataan Kota Yogyakarkarta, Pemerintah Kota Yogyakarta merelokasi semua penjual hewan di Pasar Burung Ngasem ke Bursa Argo Jogja (BAJ). Pada tanggal 22 Maret 2010, boyongan pedagang yang dikonsep dalam bentuk kirab budaya pun dilakukan. Semua pedangang hewan yang ada di Ngasem dipindahkan ke BAJ Dongkelan.

Komentar